![]() |
| Makam Syarif Idrus Al Aydrus Pendiri Kerajaan kubu |
BAB I
RAJA RAJA KERAJAAN KUBU
A. RAJA PERTAMA (1780 M-1794 M)
Sehubungan dengan telah berkembangnya Kubu menjadi sebuah negeri, maka pada tahun 1780 M dinobatkanlah secara resmi Sayidis Syarif Idrus bin Abdurrahman Al Aydrus menjadi Raja Kubu Pertama dengan gelar Tuan Besar Raja Kubu.
Dan pada tahun itu juga didirikan sebuah istana (kelak kemudian pada bekas istana tersebut didirikan masjid raya, yang sekarang bernama Masjid Jami’ Khairussa’adah).
Beliau dibantu oleh menteri-menteri kerajaan:
1. Sayid Hamzah Al Baraqbah,
2. Sayid Ali As-Shahabuddin,
3. Seikh Ahmad Faluga.
Dalam usaha memperluas negeri dibuka lagi beberapa perkampungan antara lain di Sungai Radak dan Sungai Kemuning, yang sampai sekarang masih ada dan ditempati suku-suku Melayu dan Dayak.
Setelah kira-kira 14 tahun menjadi raja di Kubu, timbul perselisihan dengan Kerajaan Siak. Pokok persengketaan hanya disebabkan oleh sebuah meriam kecil yang bernama Tupai Beradu.
Negeri Kubu diserang oleh orang-orang Siak dengan beberapa buah perahu, namun laskar Siak dapat dikalahkan dan dipukul mundur.
Setelah tujuh bulan peristiwa tersebut berlalu, putra Beliau bernama Syarif Alwi yang selama ini bermukim di Jawa datang ke Kubu.
Dibentuklah sebuah pasukan yang dipimpin oleh Syarif Alwi untuk menyerang pertahanan orang Siak. Dalam pertempuran itu kemenangan berada di pihak Kubu kedudukan Siak dapat dilumpuhkan.
Masih dalam suasana siap siaga kemungkinan serangan balik oleh orang-orang Siak, tiba-tiba Sayid Syarif Idrus bin Abdurrahman Al Aydrus wafat.
Terbetik berita bahwa Beliau dibunuh oleh pelayannya sendiri menjelang sembahyang subuh karena disangka oleh pelayan tersebut musuh yang menyelinap memasuki istana.
Beliau wafat pada hari Ahad, 26 Dzulqaidah 1209 H (1794 M) dan dimakamkan di dekat Masjid Raya yang ada sekarang (Masjid Jami Khairussa’adah, Kubu).
Catatan:
a. Pada waktu itu negeri Kubu baru berpenduduk kira-kira 700 jiwa.
b. Beliau berputra:
- Syarifah Aisyah, di Palembang.
- Syarif Muhammad, berzuriat 2 putri dan 9 putra.
- Syarif Alwi, berzuriat 1 putri dan 14 putra
- Syarif Abdurrahman, berzuriat 6 putra. (Beliau dikawinkan pula pada Syarifah Aisyah, putrid Sultan Abdurrahman asal kelahiran dari permaisuri Utin Candramidi dan bermakam di Batu Layang).
- Syarif Abdul Hamid, berzuriat 3 putra.
- Syarif Mustafa, berzuriat 3 putri dan 3 putra.
- Syarif Hasan, berzuriat 2 putra.
- Syarif Zain, berzuriat 3 putra.
- Syarif Hasyim, berzuriat 1 putra
- Syarif Husin, masih belum diketahui.
- Syarif Saleh, masih belum diketahui.
- Syarifah Fatimah, tiada berzuriat dan dimakamkan di Batu Layang. Ibundanya ialah Syarifah Aisyah binti Habib Husin Al Kadri (saudara Sultan Abdurrahman).
c.
- Syarifah Aisyah dan Syarif Alwi, satu ibu asal Palembang.
- Syarif Muhammad dan Syarif Abdurrahman, satu ibu asal Jawa.
- Selainnya dari beberapa istri asal Kalimantan Barat.
4. Menurut catatan yang ada, Syarif Zain dan Syarif Hasyim hanya beroleh dua putra dan
keturunannya belum diketahui.
Syarif Husin dan Syarif Saleh sampai sekarang masih belum diketahui di mana bermukimnya, dan ada kabar lagi yang menerangkan bahwa keduanya ini tidak mempunyai keturunan.
Syarif Mustafa, keturunannya banyak, tetapi tidak terdapat di Indonesia karena sebagian besar berada di Semenanjung Malaysia. (*)











