SISTEM APLIKASI SURAT ELEKTRONIK
Senin, 21 Mei 2012
Selasa, 31 Januari 2012
Sejarah Kerajaan Kubu (Bagian 1)
![]() |
| Makam Syarif Idrus Al Aydrus Pendiri Kerajaan kubu |
BAB I
RAJA RAJA KERAJAAN KUBU
A. RAJA PERTAMA (1780 M-1794 M)
Sehubungan dengan telah berkembangnya Kubu menjadi sebuah negeri, maka pada tahun 1780 M dinobatkanlah secara resmi Sayidis Syarif Idrus bin Abdurrahman Al Aydrus menjadi Raja Kubu Pertama dengan gelar Tuan Besar Raja Kubu.
Dan pada tahun itu juga didirikan sebuah istana (kelak kemudian pada bekas istana tersebut didirikan masjid raya, yang sekarang bernama Masjid Jami’ Khairussa’adah).
Beliau dibantu oleh menteri-menteri kerajaan:
1. Sayid Hamzah Al Baraqbah,
2. Sayid Ali As-Shahabuddin,
3. Seikh Ahmad Faluga.
Dalam usaha memperluas negeri dibuka lagi beberapa perkampungan antara lain di Sungai Radak dan Sungai Kemuning, yang sampai sekarang masih ada dan ditempati suku-suku Melayu dan Dayak.
Setelah kira-kira 14 tahun menjadi raja di Kubu, timbul perselisihan dengan Kerajaan Siak. Pokok persengketaan hanya disebabkan oleh sebuah meriam kecil yang bernama Tupai Beradu.
Negeri Kubu diserang oleh orang-orang Siak dengan beberapa buah perahu, namun laskar Siak dapat dikalahkan dan dipukul mundur.
Setelah tujuh bulan peristiwa tersebut berlalu, putra Beliau bernama Syarif Alwi yang selama ini bermukim di Jawa datang ke Kubu.
Dibentuklah sebuah pasukan yang dipimpin oleh Syarif Alwi untuk menyerang pertahanan orang Siak. Dalam pertempuran itu kemenangan berada di pihak Kubu kedudukan Siak dapat dilumpuhkan.
Masih dalam suasana siap siaga kemungkinan serangan balik oleh orang-orang Siak, tiba-tiba Sayid Syarif Idrus bin Abdurrahman Al Aydrus wafat.
Terbetik berita bahwa Beliau dibunuh oleh pelayannya sendiri menjelang sembahyang subuh karena disangka oleh pelayan tersebut musuh yang menyelinap memasuki istana.
Beliau wafat pada hari Ahad, 26 Dzulqaidah 1209 H (1794 M) dan dimakamkan di dekat Masjid Raya yang ada sekarang (Masjid Jami Khairussa’adah, Kubu).
Catatan:
a. Pada waktu itu negeri Kubu baru berpenduduk kira-kira 700 jiwa.
b. Beliau berputra:
- Syarifah Aisyah, di Palembang.
- Syarif Muhammad, berzuriat 2 putri dan 9 putra.
- Syarif Alwi, berzuriat 1 putri dan 14 putra
- Syarif Abdurrahman, berzuriat 6 putra. (Beliau dikawinkan pula pada Syarifah Aisyah, putrid Sultan Abdurrahman asal kelahiran dari permaisuri Utin Candramidi dan bermakam di Batu Layang).
- Syarif Abdul Hamid, berzuriat 3 putra.
- Syarif Mustafa, berzuriat 3 putri dan 3 putra.
- Syarif Hasan, berzuriat 2 putra.
- Syarif Zain, berzuriat 3 putra.
- Syarif Hasyim, berzuriat 1 putra
- Syarif Husin, masih belum diketahui.
- Syarif Saleh, masih belum diketahui.
- Syarifah Fatimah, tiada berzuriat dan dimakamkan di Batu Layang. Ibundanya ialah Syarifah Aisyah binti Habib Husin Al Kadri (saudara Sultan Abdurrahman).
c.
- Syarifah Aisyah dan Syarif Alwi, satu ibu asal Palembang.
- Syarif Muhammad dan Syarif Abdurrahman, satu ibu asal Jawa.
- Selainnya dari beberapa istri asal Kalimantan Barat.
4. Menurut catatan yang ada, Syarif Zain dan Syarif Hasyim hanya beroleh dua putra dan
keturunannya belum diketahui.
Syarif Husin dan Syarif Saleh sampai sekarang masih belum diketahui di mana bermukimnya, dan ada kabar lagi yang menerangkan bahwa keduanya ini tidak mempunyai keturunan.
Syarif Mustafa, keturunannya banyak, tetapi tidak terdapat di Indonesia karena sebagian besar berada di Semenanjung Malaysia. (*)
Kritik Anda adalah Kue Anda
Kritik Anda adalah Kue Anda
Ditulis
oleh: Anne Ahira
| Add caption |
Itulah kalimat dahsyat yang disampaikan Halle Berry, artis peraih Oscar melalui film James Bond 'Die Another Day' di tahun 2004 ketika mendapat piala Razzie Award.
Razzie
Award adalah penghargaan yang diberikan kepada mereka yang dinilai aktingnya
buruk. Label pemain terburuk ini didapatkan Halle setelah memainkan perannya di
film 'Cat Woman', Ia
adalah orang yang pertama kali langsung datang ke tempat pemberian penghargaan
tersebut. Tidak ada Aktor dan Artis lain sebelumnya yang sanggup datang dan hanya menyampaikan pesannya melalui video.
Sambutannya
sungguh menarik : "Saya menerima penghargaan ini dengan tulus. Saya menganggap
ini sebagai kritik bagi saya untuk tampil lebih baik di film-film saya berikutnya.
Saya masih ingat pesan ibu saya bahwa... 'Kamu tidak berhak dipuji kalau kamu
tidak bisa menerima kritikan'."
Tepukan-tangan sambil berdiri sebagai bentuk ketakjuban dari para hadirin sangat
memeriahkan malam itu. Ya, sangat sedikit orang yang sanggup menerima kritikan.
.
Nah,
sekarang, apa arti kritik bagi ? Apakah itu musibah buruk? Seperti bencana yang
tidak terduga, atau simbol kehancuran diri? Adakah yang bisa menganggap kritik
layaknya ia menerima pujian?
Kritik
memiliki banyak bentuk. Kritik bisa berupa nasehat, obrolan, sindiran, guyonan,
hingga cacian pedas. Wajar saja jika setiap orang tidak suka akan kritik.
Bagaimanapun, akan lebih menyenangkan jika kita berlaku dan tampil sempurna,
memuaskan semua orang dan mendapatkan pujian. Tapi siapa yang bisa menjamin
bahwa kita bisa aman dari kritik? Tokh kita hanyalah manusia dengan segala keterbatasannya.
Dan nyatanya, di dunia ini lebih banyak orang yang suka mengkritik, daripada
dikritik. :-)
Kalau
suka sepak bola, pasti sering mengamati para komentator dalam mengeluarkan
pernyataan pedasnya. Padahal belum tentu kepandaian mereka dalam mengkritik orang
lain sebanding dengan kemampuannya jika disuruh memainkan bola sendiri di
lapangan. ;-
Belum
lagi para pakar dan pengamat politik, ekonomi, maupun sosial. Mereka ramai-ramai
berkomentar kepada publik, seolah pernyataan merekalah yang paling benar. :-)
Namun
bukan itu permasalahannya! Pertanyaannya sekarang adalah seandainya mendapatkan
kritikan, yang sakitnya melebihi tamparan, apa yang harus lakukan?
Jawabannya adalah. =>
Nikmatilah setiap kritikan layaknya kue kegemaran kita! Mungkinkah? Mengapa
tidak! :-) Kita mempunyai wewenang penuh untuk mengontrol perasaan kita.
Berikut
tips untuk saat menghadapi kritik:
1.
Ubah
Paradigma Terhadap Kritik tidak
sedikit orang yang jatuh hanya gara-gara kritik, meski tidak semua kritik itu
benar dan perlu ditanggapi. Padahal, kritik menunjukkan adanya yang *masih
peduli* kepada kita.
Coba perhatikan
perusahaan-perusahaan besar yang harus mengirimkan berbagai survey untuk
mengetahui kelemahannya. Bayangkan jika harus melakukan hal yang sama,
mengeluarkan banyak uang hanya untuk mengetahui kekurangan ! LoL. :-)
Kritik merupakan kesempatan untuk koreksi diri. Tentu saja akan menyenangkan jika mengetahui secara langsung kekurangan kita, daripada sekedar menerima dampaknya, seperti dikucilkan misalnya.
Kritik merupakan kesempatan untuk koreksi diri. Tentu saja akan menyenangkan jika mengetahui secara langsung kekurangan kita, daripada sekedar menerima dampaknya, seperti dikucilkan misalnya.
2.
Cari tahu
sudut pandang si pengkritik
Tidak ada salahnya mencari tahu
detil kritik yang disampaikan. Bias belajar dari mereka dan melakukan koreksi
terhadap diri . Bisa jadi kritik yang disampaikan benar adanya.
Jika perlu, justru carilah orang yang mau memberikan kritik sekaligus saran kepada . Tokh tidak akan menjadi rendah dengan hal itu. Justru sebaliknya, pendapat orang bias jadi membuka persepsi, wawasan, maupun paradigma baru yang mendukung goal.
Jika perlu, justru carilah orang yang mau memberikan kritik sekaligus saran kepada . Tokh tidak akan menjadi rendah dengan hal itu. Justru sebaliknya, pendapat orang bias jadi membuka persepsi, wawasan, maupun paradigma baru yang mendukung goal.
3.
Kritik
tidak perlu dibalas dengan kritik!
Tanggapi kritik dengan bijak. tidak perlu merasa marah atau memasukkannya
ke dalam hati. Toh menyampaikan pendapat adalah hak semua orang. Nikmatilah
apapun yang mereka sampaikan. Tidak ada ruginya untuk ringan dalam mema'afkan
seseorang. Anggaplah semua itu untuk perbaikan yang menguntungkan kelak.
Jangan pernah balas kritik dengan kritik.
Karena hal ini hanya akan membuat perdebatan, menguras tenaga & pikiran.
Tidak ada gunanya.
4.
Terimalah
kritikan dengan senyuman. ^_^
Ini semua bisa melatih mental kita
agar bisa *tegar* menghadapi ujian yang lebih hebat di kemudian hari.
| Add caption |
Langganan:
Postingan (Atom)












